Nusantara, – Harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi perhatian masyarakat. Per 30 April 2026, sejumlah jenis BBM non-subsidi mengalami penyesuaian harga, sementara BBM bersubsidi masih bertahan tanpa perubahan.
Berdasarkan pembaruan harga yang berlaku di berbagai daerah, BBM non-subsidi keluaran Pertamina tercatat masih berada di level tinggi, mengikuti dinamika harga minyak mentah dunia serta nilai tukar rupiah. Penyesuaian ini umumnya dilakukan secara berkala untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar global.
Untuk BBM jenis bensin, Pertamax series masih menjadi pilihan utama kendaraan pribadi. Namun, varian dengan oktan tinggi seperti Pertamax Turbo tetap dibanderol cukup mahal. Harga tersebut mencerminkan kualitas bahan bakar yang dirancang untuk kendaraan berperforma tinggi dan mesin modern.
Sementara itu, dari kelompok BBM diesel, Pertamina Dex dan Dexlite tercatat sebagai jenis BBM dengan harga paling tinggi saat ini. Keduanya digunakan untuk kendaraan diesel tertentu dan sektor industri, sehingga harganya sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak internasional.
Di sisi lain, pemerintah memastikan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami kenaikan harga. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, khususnya pengguna kendaraan roda dua, angkutan umum, serta pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada BBM subsidi.
Pihak Pertamina mengimbau masyarakat untuk menggunakan BBM sesuai dengan spesifikasi kendaraan masing-masing agar performa mesin tetap optimal dan konsumsi bahan bakar lebih efisien. Selain itu, masyarakat juga diingatkan bahwa harga BBM dapat berbeda di setiap wilayah, tergantung pada pajak daerah dan biaya distribusi.
Dengan kondisi harga BBM yang masih fluktuatif, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam mengelola konsumsi bahan bakar, sekaligus terus mengikuti informasi resmi terkait perkembangan harga BBM di Indonesia. (bai)










