Home / Advertorial / Bontang

Sabtu, 12 September 2026 - 13:04 WIB

PAD Bontang Turun Rp9,99 Miliar, Pemkot Didorong Genjot Sumber Pendapatan

Anggota Fraksi ADB DPRD Bontang Muhammad Irfan membacakan pandangan umum fraksinya terkait nota keuangan atas Raperda Perubahan APBD Bontang 2026. (Bentangkaltim.com/asr)

Anggota Fraksi ADB DPRD Bontang Muhammad Irfan membacakan pandangan umum fraksinya terkait nota keuangan atas Raperda Perubahan APBD Bontang 2026. (Bentangkaltim.com/asr)

Bentangkaltim.com, Bontang – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bontang dalam Raperda Perubahan APBD 2026 mengalami koreksi. Penurunannya mencapai Rp9,99 miliar. Kondisi ini menjadi perhatian Fraksi Amanat Demokrat Bergelora DPRD Bontang yang meminta pemerintah kota lebih agresif menggali sumber pendapatan baru.

Anggota Fraksi Amanat Demokrat Bergelora, Muhammad Irfan, menyebut target PAD turun 2,69 persen. Menurutnya, penurunan tersebut menunjukkan masih tingginya ketergantungan Bontang terhadap dana transfer pemerintah pusat.

“Penurunan ini menjadi penegasan bahwa ketergantungan pada dana transfer dari pemerintah pusat masih sangat tinggi dan perlu diantisipasi,” kata Irfan saat menyampaikan pandangan umum fraksi dalam rapat kerja DPRD Bontang, Selasa (8/9/2026).

Baca juga  Dispora Kaltim Komitmen Kembangkan Bakat Atlet Cabor Pancak Silat dan Karate Melalui Berbagai Kejuaraan Antar Pelajar

Fraksi mendorong Pemkot Bontang memperkuat strategi peningkatan PAD. Digitalisasi pajak dan retribusi, optimalisasi aset daerah, serta penguatan kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dinilai perlu dilakukan lebih maksimal.

Sorotan juga diarahkan pada belanja modal yang turun 16,74 persen atau sekitar Rp84,43 miliar. Fraksi meminta anggaran yang tersisa diprioritaskan untuk proyek strategis dan produktif dengan dampak langsung bagi masyarakat.

“Belanja modal yang tersisa difokuskan pada penyelesaian proyek-proyek strategis dan produktif yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat,” tegasnya.

Efisiensi juga diminta diterapkan hingga tingkat organisasi perangkat daerah (OPD). Belanja perjalanan dinas, rapat, dan kegiatan seremonial yang kurang produktif dinilai masih dapat ditekan.

Baca juga  Presiden Minta Menteri BUMN Prioritaskan Korban Kebakaran Depo Pertamina

Di sisi lain, fraksi mengapresiasi alokasi fungsi pendidikan sebesar 20,61 persen dan belanja infrastruktur pelayanan publik 42,04 persen. Namun, anggaran tersebut diminta benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan layanan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perumahan, dan pelayanan sosial.

Fraksi turut meminta kejelasan terkait dana kurang bayar DBH Rp12,26 miliar dan tambahan pendanaan Rp19,26 miliar. Pemkot diminta menjelaskan peruntukan dana tersebut secara rinci serta melibatkan DPRD dalam pembahasannya.

Pengendalian APBD Perubahan 2026 juga diminta diperketat. Setiap OPD didorong memiliki rencana aksi terukur agar penyerapan anggaran efektif, tepat sasaran, dan tidak berujung pada pemborosan.(ASR/ADV DPRD BONTANG)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Fraksi ADB Minta Penyertaan Modal BUMD Bontang Beri Manfaat Terukur dan Dividen Jelas

Advertorial

Fraksi ADB Minta APBD Bontang 2027 Perkuat Kebijakan Kesehatan Mental dan Cegah Bunuh Diri

Advertorial

RAPBD Bontang 2027 Tertekan, Fraksi ADB Soroti Kondisi Fiskal dan Ketergantungan Transfer

Advertorial

Fraksi PKB Soroti Kurang Bayar DBH Rp402,58 Miliar di APBD Bontang 2027

Advertorial

APBD Bontang 2027 Tertekan, Fraksi PKB Minta Belanja Berpihak ke Masyarakat

Advertorial

Winardi Soroti Anggaran Infrastruktur dan Pengendalian Banjir Bontang

Advertorial

Fraksi PDIP Soroti Rp402 Miliar Kurang Bayar DBH dalam RAPBD Bontang 2027

Advertorial

PAD Bontang 2027 Masih Bergantung Transfer, Fraksi PDIP Minta Strategi Lebih Terukur