Home / Advertorial / Bontang

Jumat, 1 Agustus 2025 - 15:59 WIB

Disdikbud Bontang Soroti Fenomena Fatherless: Sekolah Harus Jadi Rumah Kedua Anak

Fatherless, Ilustrasi

Fatherless, Ilustrasi

Bentangkaltim, Bontang – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang memberikan perhatian serius terhadap fenomena fatherless dengan menggelar kegiatan webinar. Kegiatan tersebut menghadirkan empat narator (pembicara) dan mengangkat tema “Peran Guru di Era Digital dalam Membangun Karakter Bangsa”, Jumat (1/8/2025), secara daring.

Fenomena fatherless dapat dipahami sebagai kondisi di mana seorang anak tumbuh tanpa sosok figur ayah, baik secara fisik maupun emosional. Kondisi ini bukan hanya disebabkan oleh kematian ayah, tetapi juga karena ketidakhadiran ayah dalam keseharian anak akibat masalah keluarga, perceraian, atau ketidakmampuan ayah menjalankan perannya.

Tentu bukan hal yang baik ketika anak di usia belia tumbuh tanpa asuhan seorang ayah. Fenomena ini dapat berdampak buruk pada mental anak, seperti tidak percaya diri, krisis identitas, hingga rendah diri dibandingkan dengan anak lain. Hal ini juga dapat memengaruhi sikap dan kebiasaan anak saat berada di sekolah, misalnya mengalami masalah emosional, kesulitan dalam bersikap, dan kesulitan bertindak.

Pelaksana Tugas (Plt) Disdikbud Kota Bontang, Saparudin, mengungkapkan bahwa webinar kali ini menjadi upaya untuk memaknai fenomena fatherless serta menegaskan peran Pemkot Bontang dan guru di sekolah yang ada di Kota Taman. Disdikbud bekerja sama dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Bontang guna mendorong kolaborasi dengan orang tua untuk mewujudkan pendidikan yang memanusiakan.

Baca juga  Tingkatkan Kepedulian Sosial, Safari Ramadan MTMY Baiturrahman Salurkan Rp799 Juta

“Bersama NGOBRAS GSM (Ngobrol Bareng Komunitas Gerakan Sekolah Menyenangkan, Red.) Bontang, kegiatan ini bertujuan menciptakan ruang belajar yang hangat, inklusif, dan penuh empati,” tulis akun Instagram @disdikbud.bontang.

Komunitas GSM menekankan pentingnya pengasuhan terhadap peserta didik yang kerap kali berkurang di rumah. Tak jarang siswa kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Di sinilah guru dituntut agar mampu peka melihat keadaan ketika berkomunikasi dengan siswa.

“Melalui relasi yang memanusiakan manusia dan ekosistem sekolah yang suportif, anak-anak mendapatkan keteladanan, dukungan emosional, dan nilai-nilai kehidupan yang membentuk karakter mereka,” jelasnya.

Menurutnya, sekolah bukan lagi sekadar tempat belajar, melainkan rumah kedua bagi siswa yang mampu mengobati luka sosial mereka. Kecemasan sosial juga sering dialami siswa di rumah, sehingga peran guru di sekolah dapat menambal kehilangan perhatian dari figur ayah.

Guru memiliki tanggung jawab penting dalam membentuk generasi yang tangguh dan utuh. Di era digitalisasi, anak juga menghadapi berbagai masalah negatif yang berdampak buruk pada tumbuh kembang, seperti keterlambatan berbicara, penurunan prestasi belajar, terpapar konten pornografi, kecanduan game online, merasa kesepian, menarik diri dari lingkungan, bahkan depresi. Hal ini tentu saja memerlukan pendekatan dan penanganan yang tepat.

Baca juga  Detik-Detik Proklamasi ke-80 di Bontang, Semangat Merah Putih Tak Terpadamkan Hujan

“Keadaan tersebut menjadi tantangan bagi guru maupun orang tua dalam mendidik anak. Peran guru sangat penting dalam menangani fenomena fatherless melalui beberapa cara,” ujarnya.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain mengajak anak berdialog di pagi hari melalui circle time, sarapan bersama, buddy program (kakak kelas menjadi mentor bagi adik kelas), program “orang tua mengajar”, cross teaching (pembelajaran silang), kelas konseling, program mentoring, membangun komitmen awal dengan orang tua, pembelajaran kontekstual, hingga membuat jurnal harian siswa.

Selain itu, permainan tradisional juga digalakkan dengan tujuan membangun keterampilan sosial dan kerja sama kelompok, seperti bermain ular naga, lompat tali, congklak, dan sebagainya. Dengan begitu, siswa diharapkan mampu beradaptasi dengan teman sebaya dan merasa tidak sendiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Program satu hari bersama ayah juga menjadi penting untuk dilakukan,” tutupnya. (Jay/Adv)

Share :

Baca Juga

Advertorial

DPRD Bontang Ingatkan Pos Damkar Bontang Kuala Tidak Berakhir Jadi Aset Terbengkalai

Advertorial

DPRD Bontang Minta ASN Taat Aturan Absensi dan Hindari Manipulasi Lokasi

Bontang

Ribuan Balita Ditimbang Serentak, Ini Langkah Besar Bontang Lawan Stunting

Advertorial

DPRD Bontang Minta Dasar Hukum Penggunaan Aset Pemkot untuk Koperasi Merah Putih Diperjelas dalam Raperda BMD

Bontang

30 WBP Diberikan Rehabilitasi Massal Terapi SEFT

Advertorial

DPRD Samarinda Dorong Pemanfaatan Sampah jadi Energi Listrik

Advertorial

DPRD Bontang Soroti Ketersediaan Material Pembangunan, Isu Galian C Jadi Perhatian dalam Pembahasan RTRW

Advertorial

Dukung Kesetaraan Bagi Disabilitas, Pupuk Kaltim Dorong Penguatan Pendidikan Inklusi di Kota Bontang