Nusantara, – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah ditutup melemah di level Rp17.596 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Situasi tersebut memantik berbagai respons, mulai dari Presiden Prabowo Subianto hingga kalangan pengusaha yang mulai mengkhawatirkan dampaknya terhadap dunia usaha.
Di tengah kekhawatiran publik terhadap pelemahan rupiah, Prabowo mencoba menenangkan masyarakat. Dalam sambutannya di Nganjuk, ia menegaskan bahwa kondisi Indonesia masih cukup kuat menghadapi tekanan global. Bahkan dengan gaya santainya, Prabowo menyebut masyarakat desa tidak terlalu terdampak gejolak dolar karena aktivitas sehari-hari mereka tidak menggunakan mata uang asing tersebut.
Pernyataan itu kemudian ramai dibicarakan di media sosial dan berbagai forum daring. Sebagian masyarakat menilai ucapan tersebut sebagai bentuk optimisme pemerintah, sementara lainnya menganggap pelemahan rupiah tetap akan berimbas pada harga kebutuhan pokok karena banyak bahan baku dan barang impor masih bergantung pada dolar AS. Reaksi publik pun bermunculan, termasuk di sejumlah forum komunitas digital yang memperdebatkan dampak nyata pelemahan rupiah terhadap masyarakat kecil.
Di sisi lain, pelaku usaha justru memandang situasi ini sebagai tantangan serius. Ketua Apindo, Shinta Kamdani, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu kondisi global yang belum stabil, mulai dari konflik geopolitik hingga penguatan dolar AS akibat kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Menurutnya, pelemahan rupiah otomatis meningkatkan biaya impor dan menekan arus kas perusahaan, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku luar negeri.
Dampaknya bukan hanya terasa pada biaya produksi, tetapi juga pada kemampuan perusahaan untuk berekspansi. Ketika harga bahan baku naik dan daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya, banyak pelaku usaha harus menahan kenaikan harga agar tetap kompetitif. Akibatnya, margin keuntungan menipis dan rencana penyerapan tenaga kerja baru ikut terhambat.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi turut menyoroti faktor eksternal sebagai pemicu utama melemahnya rupiah. Ia menyebut ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta tingginya impor energi Indonesia menjadi kombinasi yang menekan nilai tukar rupiah. Bahkan, ia memperingatkan kemungkinan rupiah menembus level psikologis Rp18.000 apabila tekanan global terus berlanjut.
Meski demikian, pemerintah tetap berupaya menjaga optimisme publik. Prabowo menekankan bahwa ketahanan pangan dan energi Indonesia masih dalam kondisi aman. Ia juga meminta seluruh jajaran pemerintah tetap fokus bekerja untuk rakyat dan tidak terjebak dalam kepanikan akibat dinamika ekonomi global. (bai)










