Bentangkaltim, Bontang – Hujan yang turun tak lagi sekadar membawa kesejukan bagi warga Bontang. Di balik rintiknya, tersimpan kecemasan lama yang belum benar-benar pergi: banjir.
Hingga awal April 2026, ancaman itu masih nyata. Sungai-sungai yang menjadi urat nadi aliran air di kota ini ternyata belum cukup kuat menampung derasnya debit air. Kapasitasnya baru sekitar 70 persen dari kondisi ideal. Artinya, setiap hujan deras berpotensi berubah menjadi genangan yang merayap ke permukiman.
Masalahnya tidak sederhana. Sungai-sungai di Bontang kian dangkal akibat sedimentasi. Lumpur dan material yang terbawa dari hulu perlahan menggerus daya tampungnya. Saat air datang dalam jumlah besar, sungai tak lagi mampu menahan—dan air pun meluap, mencari ruang ke jalanan hingga rumah warga.
Tak hanya dari langit, ancaman juga datang dari daratan yang lebih tinggi. Banjir kiriman dari wilayah hulu masih menjadi momok yang sulit dikendalikan. Awal tahun ini menjadi bukti, ketika lebih dari 100 hektare wilayah terendam, dengan kawasan Api-Api menjadi salah satu yang paling terdampak.
Di pesisir, cerita lain kembali terulang. Kawasan Bontang Kuala masih bergulat dengan banjir rob yang datang nyaris tanpa jeda. Air laut pasang perlahan naik, menutup jalan, mengganggu aktivitas, bahkan seolah menjadi rutinitas yang harus diterima warga setiap harinya.
Situasi ini menunjukkan satu hal: banjir di Bontang bukan persoalan sesaat, melainkan masalah yang saling terhubung dari hulu hingga hilir. Penanganannya pun tak bisa setengah-setengah.
Berbagai upaya terus diupayakan, mulai dari pembenahan sungai hingga rencana pembangunan infrastruktur pengendali banjir. Namun jalan menuju solusi masih panjang. Tantangan anggaran, kondisi geografis, hingga koordinasi lintas wilayah menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Di tengah kondisi itu, masyarakat diminta tetap waspada. Hal sederhana seperti tidak membuang sampah ke sungai pun menjadi bagian penting dalam mencegah kondisi semakin memburuk.
Sebab di Bontang hari ini, banjir bukan lagi sekadar kemungkinan—melainkan ancaman yang selalu terasa dekat. (bai)










