Home / Advertorial / Bontang

Kamis, 25 Juni 2026 - 21:17 WIB

Biaya Operasional Pasar Bontang Bengkak, Tagihan Listrik Capai Rp100 Juta Sebulan

Pengeluran rutin dari operasional pasar di Bontang sangatlah tinggi, kondisi ini menjadi catatan legislator. (Bentangkaltim.com/asr)

Pengeluran rutin dari operasional pasar di Bontang sangatlah tinggi, kondisi ini menjadi catatan legislator. (Bentangkaltim.com/asr)

Bentangkaltim.com, Bontang – Pengelolaan pasar tradisional di Kota Bontang dinilai masih belum efisien. DPRD Bontang menyoroti besarnya biaya operasional yang harus ditanggung pemerintah daerah, bahkan nilainya disebut melampaui pendapatan yang diperoleh dari sektor tersebut.

Ketua Komisi B DPRD Bontang, Rustam, mengungkapkan kondisi itu menjadi salah satu penyebab kontribusi pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum optimal. Menurutnya, pemerintah masih harus menggelontorkan anggaran cukup besar untuk membiayai operasional tiga pasar utama di Kota Taman.

Ia menyebut pengeluaran terbesar berasal dari pembayaran listrik, yang mencapai sekitar Rp100 juta setiap bulan. Angka tersebut belum termasuk biaya penyediaan air bersih, pemeliharaan fasilitas, hingga kebutuhan operasional harian lainnya.

“Kalau kita lihat, pengeluaran sekarang masih lebih besar dibandingkan pemasukan yang diterima,” kata Rustam.

Besarnya beban operasional tersebut, lanjut dia, menunjukkan masih perlunya pembenahan dalam sistem pengelolaan pasar. Meski pasar tradisional pada dasarnya merupakan fasilitas pelayanan publik yang tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, pengelolaannya tetap harus dilakukan secara efektif dan efisien.

Baca juga  Anies Janji Buat Perumahan Untuk TNI

Rustam menilai paling tidak pendapatan dari retribusi pasar mampu menutup biaya operasional sehingga tidak terus bergantung pada dukungan APBD. “Kalau memang belum bisa memberikan PAD yang besar, minimal biaya operasionalnya bisa tertutupi. Itu sudah menjadi langkah yang baik,” ujarnya.

Menurut politisi Partai Golkar itu, evaluasi tidak hanya menyasar besarnya biaya operasional, tetapi juga sistem pemungutan retribusi yang selama ini dinilai masih memiliki potensi kebocoran. Karena itu, ia kembali mendorong pemerintah segera menerapkan sistem pembayaran retribusi secara digital agar seluruh transaksi lebih transparan dan mudah diawasi.
Penerapan pembayaran non-tunai diyakini dapat meminimalkan kebocoran penerimaan sekaligus meningkatkan akuntabilitas pengelolaan pasar. Dengan sistem yang terdigitalisasi, setiap transaksi akan tercatat secara otomatis sehingga peluang kehilangan pendapatan dapat ditekan.

“Kalau sistemnya sudah baik dan tidak ada lagi kebocoran, saya yakin pendapatan dari sektor pasar bisa meningkat secara bertahap,” tegasnya.

Baca juga  Upaya Penegakkan Perda No.1 Tahun 2024, Dispora Kaltim : Dukungan Masyarakat Masih Kurang

Selain pembenahan sistem pembayaran, Komisi B DPRD Bontang juga meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap sejumlah sumber pendapatan pasar, termasuk tarif parkir dan sewa lapak. Namun, Rustam mengingatkan penyesuaian tarif harus dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kemampuan para pedagang.

Menurutnya, kebijakan peningkatan pendapatan tidak boleh justru menambah beban pelaku usaha kecil yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di pasar tradisional.

“Yang paling penting adalah mencari keseimbangan. Pasar tetap memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat, pedagang tidak terbebani, tetapi pengelolaannya juga tidak terus mengalami kerugian,” pungkasnya.

Pembenahan tata kelola pasar, mulai dari efisiensi operasional hingga digitalisasi sistem retribusi, diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat kontribusi pasar tradisional terhadap PAD Kota Bontang tanpa mengurangi fungsi utamanya sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat. (ASR/ADV DPRD Bontang)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Ketua DPRD Samarinda Apresiasi Perumda Tirta Kencana Hasilkan Produk AMKD Samaqua, Dinilai Peluang Ekonomi Baru di Kota Tepian

Advertorial

Komisi IV DPRD Samarinda Minta Mata Rantai Anjal Gepe Diputus, Bukan Sekadar Dibina

Advertorial

Sejumlah Ruas Jalan di Palaran Masih Gelap, DPRD Samarinda Dorong Percepatan PJU

Advertorial

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Minta Polemik Dapur MBG Diselesaikan Secara Clear and Clean

Advertorial

DPRD Samarinda: Rencana Pemindahan Aktivitas Pelabuhan Masih Sebatas Arah Kebijakan

Advertorial

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda: Aksi Boti Hunter Jangan Sampai Berujung Persekusi

Advertorial

DPRD Samarinda Sudah Usulkan Transportasi Massal, Masih Tunggu Kepastian Anggaran

Bontang

Kecelakaan Tunggal di Depan Gapura BSD, 2 Orang Korban Diduga Mabuk