Bentangkaltim, Bontang – Langkah besar tengah diambil Sekolah Tinggi Teknologi (STITEK) Bontang. Kampus yang selama ini dikenal sebagai salah satu pilar pendidikan tinggi di Kota Taman itu resmi memulai perjalanan untuk bertransformasi menjadi sebuah universitas. Jika terealisasi, STITEK akan mencatat sejarah sebagai universitas pertama di Kota Bontang.
Awal perjalanan besar itu ditandai lewat agenda Sosialisasi dan Diseminasi yang digelar di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Kamis (17/12/2025). Suasananya terasa istimewa. Bukan sekadar pertemuan formal, acara ini menjadi simbol keseriusan dan komitmen bersama untuk mengangkat wajah pendidikan tinggi di kota industri tersebut.
Sejumlah tokoh penting hadir dalam kesempatan itu. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, datang langsung untuk mengawal proses transformasi STITEK. Turut hadir Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Ketua Komite I DPD RI Andi Sofyan Hasdam, jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI), pengurus yayasan, serta civitas akademika STITEK Bontang.
Bagi Hetifah, perubahan STITEK menjadi universitas bukan sekadar pergantian status kelembagaan. Lebih dari itu, ini adalah investasi jangka panjang bagi sumber daya manusia Bontang. Ia menilai, keberadaan universitas akan membuka akses pendidikan tinggi yang lebih luas, sekaligus memperkuat daya saing generasi muda tanpa harus merantau jauh ke luar daerah.
Sementara itu, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menegaskan bahwa pembangunan kota tidak bisa hanya bertumpu pada sektor industri semata. Menurutnya, pendidikan tinggi yang kuat adalah fondasi penting agar Bontang mampu melahirkan talenta unggul yang siap bersaing dan berkontribusi bagi daerahnya sendiri.
Di balik langkah besar ini, perjalanan STITEK menuju universitas sejatinya bukan hal instan. Prosesnya telah dirintis sejak bertahun-tahun lalu, dengan berbagai persiapan mulai dari penguatan sumber daya dosen, pengembangan program studi, hingga pemenuhan standar kelembagaan yang ditetapkan pemerintah. Transformasi ini membutuhkan kerja panjang, konsistensi, dan dukungan lintas pihak.
Melalui sosialisasi tersebut, perwakilan DIKTI juga memaparkan berbagai persyaratan dan tahapan yang harus dipenuhi. Mulai dari kelengkapan program studi lintas rumpun ilmu, akreditasi, hingga kesiapan sarana dan prasarana. Semua itu menjadi bagian dari proses untuk memastikan bahwa universitas yang lahir nantinya benar-benar berkualitas, bukan sekadar berubah nama.
Bontang sendiri dinilai memiliki potensi besar. Sebagai kota industri, peluang kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia usaha terbuka lebar. Hal ini bisa menjadi nilai tambah bagi STITEK dalam membangun universitas yang relevan dengan kebutuhan zaman dan dunia kerja.
Kini, transformasi STITEK Bontang menjadi universitas bukan lagi sekadar wacana. Langkah awal telah diambil, dukungan politik dan kebijakan mulai mengalir, dan harapan masyarakat pun ikut tumbuh. Jika semua proses berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, Bontang akan memiliki universitas kebanggaan sendiri—tempat lahirnya generasi masa depan kota ini. (bai)










