Belum reda isu prostitusi di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), kini muncul problem serius lain yakni narkoba. Data Polres Penajam Paser Utara cukup mengejutkan—selama 2025, ada 46 kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba yang terungkap, bahkan melibatkan pekerja, ibu rumah tangga, hingga remaja. Alasan mereka pun cukup beragam, mulai dari tekanan hidup, kebutuhan ekonomi, sampai sekadar coba-coba.
Pemerintah setempatpun berusaha melakukan langkah pencegahan dengan membentuk Kampung Tangguh Narkoba di Kecamatan Sepaku. Harapannya, ada benteng awal untuk melindungi masyarakat dari bahaya narkoba, lewat edukasi dan kontrol sosial. Tapi, pertanyaannya: apakah langkah ini cukup?
Menelisik lebih dalam
Jujur saja, kalau kita lihat, kampung tangguh narkoba itu seperti menutup lubang pakai plester. Masalahnya bukan hanya di level individu yang “terjerumus”, tapi sudah struktural.
Jika kita lihat lingkungan sosial di IKN berkembang begitu cepat, namun ternyata juga membawa dampak “liar” ala urbanisasi: prostitusi, pergaulan bebas, hingga narkoba.
Sistem hukum sekarang hanya berputar di penangkapan, sidang, lalu rehabilitasi—tapi bandar narkoba masih bisa main licin meski sudah masuk penjara.
Budaya hedonis dan individualis membuat narkoba selalu punya pasar. Ketika hidup diukur dari harta, gaya hidup, dan pelarian instan dari tekanan hidup, maka narkoba jadi “jalan pintas”.
Artinya, kita tidak sedang melawan sekadar barang haram, tapi melawan sistem yang membuat masyarakat menjadi rentan.
Menyentuh Akar, Bukan Permukaan
Kalau kita mau jujur, Islam sebenarnya punya jawaban komplit. Bukan sekadar kampanye anti-narkoba, tapi membangun masyarakat dari akarnya, dimulai dari;
Ketakwaan individu – dari kecil dibiasakan untuk menjadikan halal-haram sebagai standar hidup. Kalau ini tertanam, narkoba otomatis akan ditolak.
Kontrol masyarakat – ada budaya saling peduli, bukan saling cuek. Kalau ada yang terindikasi terjerumus, masyarakat langsung peduli dan mengingatkan.
Aturan negara – sanksi dalam Islam bukan cuma menakut-nakuti, tapi juga memberi efek jera (jawazir) dan menebus dosa (jawabir). Ditambah sistem ekonomi Islam yang menyejahterakan, orang nggak perlu cari pelarian lewat narkoba.
Beda dengan sistem sekarang yang membiarkan kapitalisme dan budaya Barat jadi kiblat, Islam justru menawarkan atmosfer sehat yang mencegah lahirnya masalah itu.
Harus Ada Pilihan Jalan
Sebagai anak muda, kita nggak bisa diam. IKN adalah masa depan bangsa, tapi kalau fondasinya rapuh karena prostitusi dan narkoba, maka masa depan itu suram. Edukasi, kampanye, dan program sosial memang perlu. Tapi jangan sampai kita puas hanya dengan solusi “plester luka”. Kita harus berani mengkritik akar masalah semua ini karena adanya sistem sekuler-liberal yang membiarkan kebebasan tanpa arah.
Umat ini butuh jalan hidup yang jelas, bukan sekadar larangan tanpa solusi. Islam menawarkan itu, bukan hanya untuk individu, tapi juga untuk masyarakat dan negara. Jadi, kalau kita mau benar-benar bebas dari narkoba, prostitusi, dan kerusakan sosial lainnya—sudah saatnya kita bicara serius tentang Islam sebagai solusi hidup, bukan sekadar identitas di KTP.
Ajakan untuk Kita Semua
Sobat muda, kita sering dengar jargon “generasi emas 2045”. Tapi coba bayangin, gimana bisa jadi emas kalau fondasi hidup kita digerus narkoba dan gaya hidup bebas? Jangan tunggu sampai lingkungan kita hancur dulu baru sadar.
Kita harus berani beda:
Berani bilang tidak pada narkoba meski semua orang bilang “sekali coba nggak apa-apa”.
Berani kritis pada sistem yang bikin rakyat sengsara, bukan ikut-ikutan pasrah.
Berani pilih jalan hidup yang benar, yaitu menjadikan Islam bukan cuma ritual, tapi solusi nyata dalam hidup.
Masa depan IKN, bahkan masa depan Indonesia, ada di tangan generasi kita. Kalau kita biarkan narkoba dan prostitusi merajalela, jangan salahkan siapa-siapa kalau nanti bangsa ini kehilangan arah. Tapi kalau kita berani memilih jalan Islam, insyaAllah kita bisa lahirkan generasi yang sehat, kuat, dan bermartabat.
Sekarang pilihannya ada di kita: mau ikut arus yang menjerumuskan, atau jadi pemuda yang membangun peradaban?
Ida Wahyuni, S.Pd.I (Guru dan pemerhati masalah umat)










