Bentangkaltim.com, Samarinda – Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim, menanggapi fenomena manusia silver yang masih kerap ditemukan di sejumlah ruas jalan Kota Samarinda meski sudah berulang kali ditertibkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Menurutnya, keberadaan manusia silver merupakan persoalan kompleks yang tidak bisa hanya diselesaikan lewat penertiban sesaat. Dia menilai fenomena itu muncul akibat desakan ekonomi warga yang belum mendapatkan pekerjaan layak untuk memenuhi kebutuhan dasar.
“Kalau semua masyarakat di Samarinda ini sudah pada level sejahtera, insyaallah otomatis model-model manusia silver itu tidak akan ada, karena sudah terpenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan mereka,” kata Abdul Rohim, Kamis (23/07/2026).
Di sisi lain, dia mengakui keberadaan manusia silver kerap mengganggu ketertiban umum lantaran muncul tiba-tiba di jalan dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Karena itu, dia meminta Satpol PP Samarinda melakukan penertiban secara konsisten dan berkelanjutan, bukan hanya sesaat.
“Satpol PP mesti konsisten, tidak bisa satu kali selesai. Kalau tidak konsisten, mereka akan muncul lagi setelah merasa penertiban sudah mereda,” ujarnya.
Abdul Rohim menyebut penertiban rutin harus tetap dilakukan sebagai solusi jangka pendek. Namun, dia menegaskan solusi jangka panjang tetap harus difokuskan pada upaya menekan angka kemiskinan dan memperluas lapangan kerja bagi warga Samarinda.
“Solusi jangka panjangnya, kita mengupayakan agar kesejahteraan masyarakat di Kota Samarinda ini bisa terpenuhi. Lapangan kerja tersedia, sehingga model-model manusia silver ini sudah tidak ada lagi,” katanya.
Fenomena manusia silver, yakni warga yang mengecat tubuhnya dengan cat berwarna perak lalu beraksi di jalanan untuk meminta uang dari pengguna jalan, kerap ditemukan di berbagai kota besar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dan umumnya dikaitkan dengan kemiskinan perkotaan.
DPRD Samarinda berharap penanganan manusia silver ke depan tidak hanya berhenti pada aspek penertiban, tetapi juga menyentuh akar masalah berupa pemberdayaan ekonomi masyarakat.
(ard/lal/adv)









