Bentangkaltim.com, KUTAI TIMUR – Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kutai Timur (Kutim) menegaskan bahwa fokus utama penggunaan anggaran tahun 2025 diarahkan pada peningkatan kualitas lingkungan permukiman.
Mulai dari perbaikan jalan lingkungan, penataan kawasan kumuh, pembangunan drainase, hingga program rumah layak huni menjadi prioritas kerja sepanjang tahun ini.
Kepala Bidang (Kabid) Perumahan Disperkim Kutim, Asran Lode, saat memaparkan perkembangan terbaru program kerja instansinya, bahwa dari seluruh jenis pekerjaan yang tercantum dalam program tahun ini, dua sektor terbesar yang menyerap anggaran adalah perbaikan jalan dan drainase.
Keduanya dianggap paling mendesak karena menyangkut aksesibilitas warga dan upaya pengurangan risiko genangan di kawasan permukiman.
“Jalan dan drainase itu porsi terbesar karena kebutuhan masyarakat paling tinggi di situ. Selebihnya tetap jalan lingkungan, kawasan kumuh, dan rumah layak huni,” ujarnya, Rabu (19/11/2025).
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa anggaran Disperkim tahun ini mencapai sekitar Rp 1,3 triliun, namun tidak seluruhnya dialokasikan untuk proyek baru.
Dari total tersebut, lebih dari Rp 400 miliar digunakan untuk membayar kewajiban atau hutang pekerjaan dari tahun sebelumnya. Sementara Rp 800–900 miliar sisanya dipergunakan untuk pelaksanaan fisik di 18 kecamatan.
“Tidak semua 1,3 triliun itu proyek baru, karena sebagian adalah penyelesaian komitmen lama. Sisa anggaran itulah yang berjalan untuk fisik tahun ini,” jelasnya.
Progres pelaksanaan pekerjaan fisik tercatat telah mencapai 46 persen. Menurut Asran, capaian itu sudah sesuai dengan peta waktu pelaksanaan, meski masih memerlukan percepatan untuk mengejar target akhir tahun.
Ia optimistis progres bisa mendekati angka maksimal jika tidak ada gangguan signifikan di lapangan. “Harapannya bisa mendekati 100 persen, tapi tentu bergantung kondisi lapangan. Kami terus dorong agar seluruh paket berjalan sesuai jadwal,” katanya.
Namun demikian, Asran tidak menampik bahwa sejumlah hambatan teknis dan non-teknis kerap memengaruhi pelaksanaan pekerjaan.
Mulai dari cuaca yang tidak menentu hingga ketersediaan material yang sering terlambat, semuanya berdampak pada ritme kerja kontraktor.
Selain itu, ia menyoroti persoalan tenaga kerja yang terkadang tidak memadai untuk menangani volume pekerjaan besar dalam waktu yang terbatas. Situasi tersebut memaksa sejumlah pekerjaan harus dilakukan secara paralel untuk mengejar ketertinggalan.
Meski begitu, Disperkim tetap berupaya menjaga kualitas pekerjaan agar tidak terpengaruh oleh tekanan waktu. “Kami tetap mengutamakan kualitas. Walaupun ada penyesuaian strategi, standar pekerjaan tetap harus terjaga,” tambahnya.
Asran menegaskan bahwa seluruh upaya peningkatan infrastruktur permukiman tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat mendapatkan lingkungan hunian yang lebih layak, aman, dan sehat.
Ia berharap dukungan seluruh pihak, termasuk masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya, agar pelaksanaan program dapat berjalan lancar.
“Kami berkomitmen menyelesaikan program ini semaksimal mungkin. Mudah-mudahan semua bisa rampung sesuai target,” pungkasnya.(ADV)










