Bentangkaltim, Kaltim – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2026 diperkirakan menghadapi tantangan serius untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Sejumlah indikator menunjukkan adanya potensi penurunan penerimaan, terutama dari sektor-sektor unggulan daerah.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah menurunnya konsumsi bahan bakar minyak (BBM), yang selama ini menjadi salah satu penyumbang signifikan bagi pendapatan daerah melalui pajak. Selain itu, fluktuasi di sektor pertambangan—yang menjadi tulang punggung ekonomi Kaltim—juga turut memberikan dampak terhadap penerimaan daerah.
Kondisi ini diperparah dengan ketidakstabilan harga komoditas global, yang berdampak langsung pada aktivitas industri ekstraktif di wilayah Kalimantan Timur. Ketika produksi dan distribusi menurun, maka kontribusi terhadap PAD pun ikut tergerus.
Pemerintah Provinsi Kaltim saat ini tengah mengkaji berbagai langkah strategis untuk mengantisipasi potensi defisit tersebut. Di antaranya dengan mengoptimalkan sektor non-migas, meningkatkan pengawasan pajak daerah, serta mendorong pertumbuhan sektor ekonomi alternatif seperti pariwisata dan ekonomi kreatif.
Meski demikian, pemerintah tetap optimistis bahwa melalui berbagai upaya yang dilakukan, target PAD masih dapat dikejar, meskipun memerlukan kerja keras dan sinergi dari berbagai pihak.
Situasi ini menjadi perhatian penting, mengingat PAD merupakan salah satu sumber utama pembiayaan pembangunan daerah. Jika tidak tercapai, maka sejumlah program prioritas berpotensi mengalami penyesuaian. (bai)










