Home / Advertorial / Kaltim

Jumat, 14 November 2025 - 10:26 WIB

Teknologi Padi Apung Mulai Diujicoba, Kutim Cari Solusi Produksi di Lahan Rawa

Bentangkaltim.com, KUTAI TIMUR – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur kembali memanfaatkan inovasi pertanian sebagai strategi memperkuat ketahanan pangan daerah melalui penerapan teknologi padi apung, metode budidaya yang memungkinkan tanaman padi tetap tumbuh di wilayah berair, berawa, dan rawan banjir.

Teknologi padi apung diperkenalkan secara resmi kepada publik melalui pameran pertanian yang digelar tahun ini.

Metode tersebut dinilai dapat menjawab keterbatasan lahan konvensional sekaligus mengurangi dampak gagal tanam akibat luapan air di sejumlah kecamatan.

Kabid Tanaman Pangan Dinas TPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, menjelaskan bahwa penerapan metode ini tidak mengubah varietas padi yang digunakan, namun mengadaptasi teknik budidayanya.

“Padi apung menggunakan varietas yang sama seperti sawah biasan dan sistem budidayanya yang disesuaikan agar tanaman tetap tumbuh meski berada di atas air,” ujar Dessy.

Baca juga  Dukung Pemulihan Penyintas Terorisme, Pupuk Kaltim Salurkan Bantuan Kemanusiaan Rp820 Juta

Saat ini penerapan teknologi padi apung di Kutim masih berada pada tahap uji coba (demplot).

Pemerintah terlebih dahulu menilai ketahanan tanaman, efektivitas metode, serta potensi produktivitas sebelum memutuskan penerapannya dalam skala wilayah.

Dessy menegaskan bahwa inovasi ini bukan merupakan program utama pertanian daerah, namun alternatif untuk wilayah tertentu.

“Padi apung bukan fokus utama, tetapi solusi untuk daerah yang tidak memungkinkan dibuat sawah konvensional karena kondisi lahan dan ancaman banjir,” terangnya.

Sejumlah titik potensial sedang dipetakan untuk uji coba lanjutan pada wilayah yang setiap tahun terdampak banjir musiman dan tidak memiliki sistem pengairan stabil.

Baca juga  DPRD Samarinda Mengaku Tidak Tahu Soal Anggaran Sewa Mobil Dinas Andi Harun

Teknologi ini diharapkan membantu masyarakat tetap berproduksi meskipun kondisi lahan tidak ideal.

Selain aspek teknis budidaya, pemerintah juga melakukan evaluasi terhadap kebutuhan sarana, efisiensi biaya, hingga kesiapan petani untuk menerapkan metode tersebut.

DTPHP Kutim menilai penerapan inovasi harus memastikan keberlanjutan, bukan sekadar proyek pendek.

Jika uji coba menunjukkan hasil positif, inovasi padi apung dapat membuka peluang produksi baru di wilayah yang selama ini tidak tergarap.

Dampaknya, penyumbang produksi pangan daerah dapat bertambah tanpa perlu memperluas lahan konvensional, sekaligus memberikan kesempatan bertani bagi masyarakat di kawasan yang rawan banjir.(ADV)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Banyak Kasus Bunuh Diri Lompat dari Jembatan, DPRD Samarinda Bangun Pagar Upaya Pencegahan

Advertorial

Komisi II DPRD Samarinda Kritisi Pembangunan Pasar Pagi Gedung Mewah Tapi Sepi Pembeli

Advertorial

DPRD Samarinda Ingin Tambahkan Anggaran Dinsos hingga Minta Data DTKS Diperbaharui

Advertorial

Ketua DPRD Samarinda Dorong Event Job Fair Terus Digerlar, Upaya Jembatani Perusahaan dan Pebcari Kerja hingga Tekan Angka Pengangguran

Advertorial

DPRD Samarinda Minta Satpol PP dan Dinsos Kolaborasi Tindak Gepeng dan Anjal yang Kerap Nongkrong di Lampu Merah Perkotaan

Advertorial

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Minta Nakes Bermasalah di RSUD AI Moeis Dievaluasi

Advertorial

Ketua DPRD Samarinda Apresiasi Perumda Tirta Kencana Hasilkan Produk AMKD Samaqua, Dinilai Peluang Ekonomi Baru di Kota Tepian

Advertorial

Komisi IV DPRD Samarinda Minta Mata Rantai Anjal Gepe Diputus, Bukan Sekadar Dibina