Bentangkaltim.com, KUTAI TIMUR – Proyek pembangunan Jembatan Telen kembali menunjukkan progres yang lambat, hingga November 2025, konstruksi masih berhenti pada satu tiang utama yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Kondisi ini membuat mobilitas warga di wilayah Telen masih terhambat, terutama ketika curah hujan.
Sejak dimulai pada 2023, jembatan ini diproyeksikan dapat menjadi akses vital bagi masyarakat yang selama ini mengandalkan transportasi air.
Namun, sejumlah kendala teknis dan faktor alam membuat proses pengerjaan jauh dari target seperti belum adanya pengecoran lanjutan pada tiang utama memperlihatkan pekerjaan masih berada pada tahap awal.
Camat Telen, Petrus Ivung, menjelaskan bahwa keadaan alam menjadi tantangan utama yang menghambat penyelesaian proyek. Menurutnya, banjir yang berulang membuat pekerja tidak dapat bekerja optimal.
“Banjir yang berturut-turut membuat pengecoran tidak bisa dilakukan karena arus air terlalu deras,” ungkap Petrus.
Ia menambahkan bahwa kualitas pengerjaan harus tetap diperhatikan, sehingga tidak dapat dilakukan dalam kondisi ekstrem.
Keamanan pekerja dan kelayakan struktur menjadi pertimbangan utama di lapangan. Selain itu, proses pengangkutan material dari Dinas Pekerjaan Umum juga membutuhkan waktu karena akses menuju lokasi tidak mudah.
Keterlambatan pembangunan ini membuat aktivitas warga semakin sulit karena pada musim hujan, jalur menuju sejumlah pemukiman menjadi tidak dapat dilalui kendaraan.
Warga terpaksa kembali menggunakan perahu kecil untuk keluar-masuk desa, meski risiko keselamatannya cukup tinggi.
Petrus berharap pembangunan jembatan dapat dilanjutkan sesegera mungkin pada tahun berjalan dan menegaskan bahwa jembatan tersebut merupakan kebutuhan mendesak bagi masyarakat Telen.
“Harapan saya jembatan ini bisa segera rampung, karena ini satu-satunya akses yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” jelasnya.
Meski belum ada laporan resmi mengenai persentase progres, pemerintah kecamatan menyatakan siap berkoordinasi dengan dinas teknis terkait percepatan pembangunan.
“Kami berharap tidak ada lagi hambatan besar yang membuat target kembali meleset,” tutupnya.
Dengan kondisi masyarakat yang masih harus menghadapi akses terbatas, penyelesaian jembatan ini menjadi urgensi agar konektivitas wilayah dapat kembali normal.
Pemerintah daerah diharapkan memberikan perhatian lebih terhadap proyek ini agar kepentingan warga dapat terpenuhi.(ADV)










