Samarinda – Anggota Komisi III DPRD Samarinda, M. Andriansyah, mendorong pemanfaatan sampah plastik bernilai rendah atau low value untuk diolah menjadi bahan bakar cair melalui teknologi pirolisis. Ia menilai langkah ini bisa menjadi solusi pengurangan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Andriansyah menyampaikan pandangan itu dalam wawancara pada Senin (25/05/2026). Ia menjelaskan, dorongan ini berangkat dari hasil studi banding Komisi III ke Cimahi, saat pihaknya melihat langsung pengolahan sampah plastik menjadi minyak.
Menurut dia, jenis plastik yang selama ini paling sering dibuang justru punya potensi besar untuk diolah. Plastik tipis seperti kresek dan bahan sejenis disebut lebih layak dijadikan bahan baku dibanding plastik botol yang perlakuannya berbeda.
“Plastik yang low value itu, yang dibuang-buang di jalan itu, ternyata itu yang jadi minyak,” kata Andriansyah. Ia menjelaskan, alat pirolisis memang sudah beberapa kali diuji di daerah lain, tetapi belum masuk skala produksi.
Ia mengatakan, Komisi III ingin mendorong agar alat tersebut bisa dibuat dan diproduksi di Samarinda. Untuk itu, pihaknya mulai menjajaki kerja sama dengan SMK 15 Samarinda dan Politeknik agar ada riset dan desain alat yang lebih terukur.
Andriansyah menegaskan, program ini tidak cukup hanya dibicarakan. Menurut dia, dunia pendidikan bisa dilibatkan agar teknologi itu berkembang dengan pendekatan yang lebih praktis dan murah.
“Kita tinggal ATM saja, amati, tiru, modifikasi. Yang penting biaya operasionalnya murah tapi hasilnya lumayan,” ujarnya. Ia juga menyebut biaya operasional pirolisis bisa jauh lebih rendah dibanding harga solar di pasaran.
Selain nilai ekonomi, Andriansyah menilai pengolahan sampah dari hulu penting untuk menekan beban TPA. Ia menegaskan, Samarinda tidak bisa terus mengandalkan pembenahan di hilir tanpa menyelesaikan sumber persoalan sampah.
“Jangan kita selalu mikir di hilir aja. Program di hulu ini harus kita selesaikan,” katanya. Ia berharap program ini mulai dijalankan tahun ini agar tidak berhenti di tataran ide semata.
Sebagai konteks, sejumlah kajian di Indonesia menunjukkan pirolisis memang dapat mengubah plastik tertentu menjadi bahan bakar cair, selama bahan baku dipilah dengan tepat. Sementara Samarinda masih menghadapi beban sampah harian yang besar sehingga inovasi dari sumbernya dinilai penting.
(ard/lal/adv)










