PR Di tengah Gelar Membanggakan
Tahun ini, Kota Bontang kembali meraih penghargaan sebagai Kota Layak Anak dengan kategori Anugerah Utama. Sebuah capaian yang tentu membanggakan karena menunjukkan adanya upaya pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi anak.
Namun, jangan sampai predikat ini membuat kita lengah. Sebab, di balik gelar tersebut masih ada pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan, yakni tingginya angka stunting di Bontang.
Stunting bukan sekadar istilah medis. Ia adalah gambaran nyata kegagalan pemenuhan gizi, kesehatan, dan pola asuh anak sejak usia dini. Dengan kata lain, penghargaan Kota Layak Anak akan terasa timpang jika hak dasar anak untuk tumbuh sehat belum terpenuhi.
Akar Masalah yang Lebih Dalam
Sering kali stunting dianggap hanya masalah pola makan, pengetahuan ibu, atau keterbatasan layanan kesehatan. Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks.
Sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini telah melahirkan kesenjangan sosial. Kekayaan alam dikuasai segelintir pihak, sementara banyak keluarga justru kesulitan memenuhi kebutuhan gizi. Negara pun sering kali abai dalam perannya sebagai pelindung dan penjamin kesejahteraan rakyat. Tidak heran jika angka stunting tetap tinggi meski berbagai program sudah dijalankan.
Inilah kontradiksi yang mencolok: di satu sisi Bontang diganjar predikat Kota Layak Anak, tetapi di sisi lain masih ada ancaman serius terhadap tumbuh kembang generasi. Gelar seolah menutupi masalah substansial yang menentukan kualitas anak-anak ke depan.
Jalan Keluar dari Stunting
Stunting tidak cukup diatasi dengan program karitatif atau seremonial. Harus ada langkah mendasar:
- Negara hadir sepenuhnya sebagai penjamin kebutuhan dasar rakyat, mulai dari pangan bergizi hingga layanan kesehatan gratis dan berkualitas.
- Pengelolaan sumber daya yang adil, sehingga kekayaan alam benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat, bukan segelintir penguasa atau asing.
- Penguatan edukasi keluarga, agar orang tua memahami pentingnya pola asuh dan gizi seimbang.
- Perubahan paradigma kebijakan, dari sekadar proyek pencitraan menuju penanganan menyeluruh berbasis keadilan sosial.
Khilafah Menjamin Kebutuhan Gizi Generasi
Berbeda dengan sistem kapitalisme yang hanya menyentuh aspek teknis, Islam menawarkan solusi sistemis melalui Khilafah. Negara berkewajiban menjamin kebutuhan pokok rakyat—sandang, pangan, papan—dengan distribusi kekayaan yang merata dan pengelolaan sumber daya alam untuk kepentingan umum.
Dalam konteks pencegahan stunting, Khilafah menjamin ketersediaan pangan halal, tayib, dan bergizi yang mudah diakses semua lapisan masyarakat karena daya beli rakyat terjaga. Layanan kesehatan dan pendidikan diberikan gratis, sementara kebijakan ketahanan pangan diarahkan untuk swasembada, sehingga rakyat tidak tergantung pada impor.
Dengan mekanisme ini, keluarga memiliki daya beli yang cukup, anak-anak dapat tumbuh sehat, dan status gizi masyarakat terjaga. Inilah solusi Islam yang menyeluruh, bukan sekadar pemadam kebakaran sesaat.
Penutup
Kita boleh berbangga dengan predikat yang di dapat Kota Bontang sebagai Kota Layak Anak. Tetapi, gelar itu tidak boleh menutupi persoalan yang ada. Layak anak bukan sekadar penghargaan, melainkan tanggung jawab nyata.
Selama stunting masih ada, maka dia akan tetap menjadi ancaman, itu berarti pekerjaan besar kita belum selesai. Gelar hanya akan berarti bila diiringi dengan lahirnya generasi sehat tanpa stunting. Anak-anak hari ini bukan sekadar masa depan, melainkan amanah yang harus dijaga sepenuh hati sejak sekarang. Nur Ilahiyah (Pengajar di Madrasah Al -Quran Darul Izzah Bontang)
Wallahu’alam bi showab.










