Bentangkaltim.com, KUTAI TIMUR – Lonjakan volume sampah di wilayah Kutai Timur (Kutim) mendorong pemerintah daerah mengembangkan sistem pengelolaan cerdas berbasis teknologi. Sistem ini dirancang agar proses pemilahan, pengangkutan, dan pengolahan sampah berjalan lebih efisien.
Asisten II Setkab Kutim, Noviari Noor, menyebut inovasi pengelolaan sampah menjadi keniscayaan bagi daerah yang terus berkembang.
“Sampah kita sudah 220 ton per hari. Tanpa sistem cerdas, pengelolaan bisa kolaps. Karena itu, Pemkab menyiapkan pendekatan modern dengan perencanaan digital dan berbasis data,” ujarnya, setelah pembukaan FGD Kajian Kelayakan Teknis, Ekonomi, dan Lingkungan Pembagunan TPST di Hotel Royal Victoria, Rabu (12/11/2025).
Melalui sistem ini, pemerintah akan memantau produksi sampah dari sumbernya dan mengatur ritme pengangkutan secara real-time.
Hal ini memungkinkan petugas lapangan bekerja lebih terarah, sehingga tumpukan sampah di area padat dapat segera ditangani.
Noviari menjelaskan, pembangunan TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) juga menjadi bagian dari sistem cerdas ini. Di sana, sampah akan dipilah menjadi bahan yang bisa diolah ulang dan residu yang akan dibuang.
“Kita ingin setiap ton sampah memiliki nilai guna. Itu prinsip dasar ekonomi sirkular,” katanya.
Pemerintah juga mendorong partisipasi warga melalui aplikasi pelaporan dan edukasi digital mengenai pemilahan sampah rumah tangga. Upaya ini diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat tentang sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Menurut Noviari, keberhasilan program ini akan menjadi tonggak baru pengelolaan lingkungan di Kutim.
“Kalau sistem digital berjalan baik, data volume dan jenis sampah bisa dikendalikan. Ini memudahkan kita menyusun kebijakan jangka panjang,” ungkapnya.
Selain efisiensi operasional, sistem ini juga diharapkan menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengolahan dan daur ulang. Pemerintah tengah menyiapkan skema kemitraan dengan UMKM dan pelaku industri hijau.
“Kita tidak hanya bicara kebersihan, tapi juga nilai ekonomi. Sampah bisa jadi peluang,” tutup Noviari.(ADV)










