Bentangkaltim, – Monumen Pancasila Sakti adalah sebuah simbol penghormatan yang mendalam bagi para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI. Terletak di kawasan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, monumen ini menjadi saksi bisu perjuangan mempertahankan ideologi bangsa.
Monumen ini lahir dari gagasan Presiden Soeharto, presiden kedua Indonesia, dan dibangun di lahan seluas 14,6 hektare sebagai tanda penghargaan atas pengorbanan para pahlawan. Pendirian monumen ini dimulai pada pertengahan Agustus 1967 dan secara resmi diresmikan pada 1 Oktober 1973, menandai hari yang kini diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
Monumen Pancasila Sakti tidak sekadar menjadi tempat peringatan, melainkan juga sebuah kenangan abadi atas perjuangan melawan ancaman Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam peristiwa yang mengguncang bangsa. Kompleks monumen ini terdiri dari berbagai bagian penting, seperti Museum Pengkhianatan PKI, Sumur Tua tempat pembuangan jenazah tujuh pahlawan, Rumah Penyiksaan, Museum Paseban, dan Pos Komando.
Tujuh Pahlawan Revolusi yang dikenang adalah Mayjen TNI Anumerta Soetojo Siswomihardjo, Mayjen TNI Anumerta D.I Panjaitan, Letjen TNI Anumerta R. Soeprapto, Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, Letjen TNI Anumerta M.T. Harjono, Letjen TNI Anumerta S. Parman, dan Kapten Czi Anumerta P.A. Tendean. Mereka adalah simbol keberanian dan pengorbanan yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga Pancasila sebagai dasar negara.
Setiap tanggal 1 Oktober, Monumen Pancasila Sakti menjadi pusat peringatan Hari Kesaktian Pancasila, di mana Presiden, pejabat negara, dan masyarakat bersama-sama menghormati para pahlawan dan memperkuat tekad menjaga keutuhan bangsa.
Melalui Monumen Pancasila Sakti, setiap generasi diingatkan akan sejarah penting Indonesia dan nilai-nilai luhur yang diperjuangkan para pendahulu. Monumen ini bukan hanya tempat mengenang, tetapi juga sumber edukasi agar semangat perjuangan terus hidup dalam diri setiap warga negeri. (bai)










