Bentangkaltim, Kaltim – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membayangi Kalimantan Timur. Berdasarkan data terbaru Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kaltim tercatat sebagai provinsi dengan jumlah titik panas (hotspot) tertinggi di Indonesia pada Senin, 11 Mei 2026.
Sistem pemantauan SiPongi KLHK mendeteksi sebanyak 24 titik panas di Kalimantan Timur dalam 24 jam terakhir. Jumlah itu menempatkan Kaltim di posisi teratas nasional, melampaui Sumatera Selatan dan Nusa Tenggara Timur.
Data tersebut diperoleh dari pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang digunakan KLHK untuk memantau potensi kebakaran hutan dan lahan di seluruh Indonesia. Dari total 169 hotspot yang terpantau secara nasional, sebagian besar berada pada kategori tingkat kepercayaan sedang.
Fenomena ini memperkuat kekhawatiran berbagai pihak terhadap potensi karhutla di wilayah Kalimantan Timur yang dalam beberapa pekan terakhir mengalami cuaca panas cukup ekstrem. BMKG sebelumnya telah mengingatkan bahwa lonjakan suhu dan minimnya curah hujan mulai memicu peningkatan titik panas di sejumlah daerah.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Carolina Meylita Sibarani, mengatakan kondisi cuaca panas menjadi faktor utama meningkatnya hotspot di Kaltim. Dalam beberapa hari sebelumnya, titik panas bahkan sempat melonjak hingga lebih dari 80 titik yang tersebar di Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Paser, hingga Berau.
Kutai Timur disebut menjadi salah satu wilayah paling rawan karena berkali-kali mencatat jumlah hotspot tertinggi di provinsi ini. Selain itu, kawasan Kutai Kartanegara, Berau, hingga sebagian wilayah sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN) juga masuk dalam pemantauan intensif.
BMKG dan BPBD Kaltim kini meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan tidak membuka lahan menggunakan api, tidak membakar sampah sembarangan, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu percikan api di area kering. Pemerintah daerah juga diminta memperkuat patroli lapangan guna mencegah hotspot berkembang menjadi kebakaran besar.
Isu meningkatnya titik panas ini pun menjadi perhatian publik di media sosial. Warganet ramai membagikan kondisi cuaca panas di sejumlah daerah Kaltim, terutama Samarinda, Bontang, dan Balikpapan. Sebagian warga mulai khawatir musim kemarau tahun ini berpotensi memunculkan kabut asap seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu.
Meski hotspot belum tentu berarti terjadi kebakaran, KLHK menegaskan banyaknya titik panas yang terkonsentrasi dalam satu wilayah menjadi indikator awal meningkatnya risiko karhutla. Karena itu, langkah pencegahan dini dinilai menjadi kunci agar kebakaran besar tidak kembali terjadi di Kalimantan Timur. (bai)










