Bentangkaltim.com, Samarinda – Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Joha Fajal, menyebutkan pelemahan kurs sangat berdampak pada sektor energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), yang menjadi komponen utama dalam aktivitas transportasi dan distribusi barang.
Karena, menurut Joha, hubungan antara nilai tukar rupiah dan harga kebutuhan pokok dapat dilihat dari meningkatnya biaya operasional logistik ketika nilai dolar menguat terhadap rupiah.
“Secara logika dampaknya memang mengarah ke BBM karena minyak dibeli menggunakan dolar,” sebut Joha.
Bagi Joha, bahwa kebutuhan energi dalam negeri masih bergantung impor dari negara lain dengan kebutuhan energi yang bervariasi, misalkan BBM jenis bensi mencapai 59 persen.
“ Indonesia hingga kini masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah dari luar, jadi kebutuhan energi masih bergantung dengan negara lain,” ujarnya.
Dikatakan Joha, transaksi pembelian dilakukan menggunakan dolar AS, setiap pelemahan rupiah akan membuat biaya impor energi menjadi lebih mahal. Sehingga, dampaknya kemudian merembet ke berbagai sektor yang bergantung pada penggunaan bahan bakar.
“Jadi semua pasti berdampak, kalua minyak naik pasti semua kebutuhan lain pasti ikut naik,” tutur Joha.
Salah satu daerah yang terdampak adalah Kota Samarinda, disebutkan Joha, bahwa distribusi kebutuhan pokok dari daerah produsen menuju Samarinda sebagian besar masih mengandalkan transportasi laut dan darat yang membutuhkan konsumsi BBM dalam jumlah besar.
Kondisi tersebut membuat harga barang yang masuk ke Samarinda rentan mengalami penyesuaian ketika biaya operasional pengangkutan meningkat.
“Apalagi sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat kota masih dipasok dari luar Kaltim maupun dari daerah lain di Pulau Kalimantan,” tukasnya.
Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah menjadi salah satu faktor yang membuat harga pangan di Samarinda lebih sensitif terhadap perubahan biaya distribusi.
Karena itu, upaya memperkuat produksi lokal dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di masa mendatang.
“Apabila kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi dari hasil produksi daerah sendiri, biaya distribusi dapat ditekan sehingga gejolak harga akibat faktor eksternal, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah, tidak terlalu dirasakan masyarakat,” terangnya.
Politisi Partai NasDem itu berharap pemerintah dapat memperkuat sektor pangan lokal sekaligus menjaga efisiensi distribusi agar masyarakat tidak terdampak secara signifikan oleh fluktuasi nilai tukar maupun kondisi ekonomi global yang saat ini masih penuh ketidakpastian.
(ard/lal/adv)









