Home / Advertorial / Bontang

Rabu, 16 September 2026 - 07:01 WIB

Bontang Surplus Listrik, Rustam DPRD Bontang Tuntut Hak Warga: Jangan Sampai Mati di Lumbung Sendiri

Ketua Komisi B DPRD Bontang Rustam geram dengan skema pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Bontang. (Bentangkaltim.com/asr)

Ketua Komisi B DPRD Bontang Rustam geram dengan skema pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Bontang. (Bentangkaltim.com/asr)

Bentangkaltim.com, Bontang – Kondisi kelistrikan Kota Bontang kembali menjadi sorotan. Di tengah kapasitas pembangkit listrik yang dinilai mampu memenuhi kebutuhan daerah, warga justru masih harus menghadapi persoalan pasokan listrik. Ketua Komisi B DPRD Bontang, Rustam, menilai situasi tersebut sebagai ironi yang tidak seharusnya terjadi.

Politisi Golkar itu secara tegas menuntut PT PLN (Persero) memprioritaskan pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat Bontang, terlebih sebagian energi yang disalurkan melalui sistem interkoneksi berasal dari pembangkit yang beroperasi di wilayah tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Rustam dalam rapat dengar pendapat (RDP) antara Komisi B DPRD Bontang dan PLN, Selasa (15/9/2026).

Dalam forum tersebut, Rustam menyoroti ketimpangan antara kapasitas pembangkit, kebutuhan listrik lokal, dan penyaluran energi ke daerah lain. Ia menyebut kebutuhan listrik Bontang diperkirakan sekitar 70 megawatt (MW), sementara kapasitas pembangkit yang tersedia jauh lebih besar.

Menurutnya, kondisi tersebut semestinya menjadi modal bagi Bontang untuk memperoleh jaminan pasokan listrik yang memadai, bukan justru mengalami persoalan kelistrikan.

“Ini benar-benar kita mati di lumbung sendiri bahasanya. Kami tidak mau tahu, sekarang intinya kami menuntut listrik ini. Berikan kami hak kami,” tegas Rustam dalam rapat.

Baca juga  Hadapi Tekanan Fiskal, Pemkab Kutim Koreksi Arah Pembangunan Daerah

Ia juga mempertanyakan kebijakan penyaluran listrik melalui jaringan interkoneksi yang menjangkau wilayah jauh dari Bontang. Menurutnya, pembangunan dan pengembangan jaringan transmisi harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di daerah penghasil energi.

Rustam menilai tidak masuk akal apabila listrik yang diproduksi di wilayah Bontang harus disalurkan ke daerah lain, sementara kebutuhan masyarakat setempat belum sepenuhnya terpenuhi.

“Ini kami masak sendiri, kami olah sendiri, di tempat kami sendiri. Kenapa kami diperlakukan seperti ini?” ujarnya.

JANGAN ABAIKAN KEBUTUHAN WARGA BONTANG

Dalam kesempatan itu, Rustam turut menyinggung besarnya kapasitas listrik yang disalurkan melalui sistem interkoneksi. Ia menyebut angka 180 MW dan tambahan 50 MW, serta mempertanyakan alokasi energi yang juga diberikan kepada kawasan industri lain, termasuk Kaltim Parna Industri (KPI) yang disebut memperoleh pasokan 30 MW.

Baginya, angka-angka tersebut perlu dijelaskan secara transparan agar masyarakat mengetahui bagaimana pembagian energi dilakukan, terutama ketika Bontang masih menghadapi persoalan pasokan listrik.

Rustam meminta jajaran manajemen PLN yang hadir dalam rapat, termasuk perwakilan dari Jakarta, tidak hanya memberikan penjelasan teknis, tetapi juga memastikan adanya langkah konkret untuk menjamin kebutuhan listrik masyarakat.

Baca juga  Demplot Pupuk Kaltim Tingkatkan Produksi Padi Bone hingga 100 Persen

Ia menegaskan, persoalan ini bukan sekadar menyangkut distribusi energi, melainkan juga hak masyarakat Bontang untuk menikmati pasokan listrik yang andal dari sumber daya yang tersedia di daerahnya.

“Kami menuntut hak kami. Listrik ini ada di Kota Bontang, diproduksi di sini. Masa masyarakat di daerah lain bisa menikmati, sementara kami di Bontang justru mengalami kesulitan?” katanya.

Rustam berharap persoalan kelistrikan Bontang menjadi perhatian serius PLN dan seluruh pemangku kepentingan. Ia meminta agar keberadaan pembangkit di Bontang benar-benar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, bukan hanya menopang kebutuhan energi di luar daerah.

Menurutnya, surplus kapasitas pembangkit seharusnya menjadi peluang untuk memperkuat keandalan listrik lokal. Karena itu, PLN diminta segera merumuskan solusi agar warga Bontang tidak terus berada dalam kondisi yang ironis, yakni tinggal di kota penghasil energi, tetapi masih harus berjuang mendapatkan pasokan listrik yang stabil.(ASR/ADV DPRD BONTANG)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Kembali Duduk di DPRD Bontang, Sudiyo Siap Perjuangkan Aspirasi Warga Bontang Selatan

Advertorial

Sudiyo Langsung Duduki Kursi Strategis di DPRD Bontang, Jadi Sekretaris Komisi C dan Anggota Bamus

Advertorial

Sudiyo Resmi Duduki Slot Kursi DPRD Bontang, Gantikan Almarhum Maming

Advertorial

DPRD Bontang Libatkan Perusahaan Industri Susun Raperda Penanggulangan Bencana, Sumardi Minta Masukan Ahli Safety

Advertorial

Ridwan Soroti Potensi PAD dari Aset Pemkot Bontang yang Dikelola PT BME

Advertorial

DPRD Bontang Bahas Penyertaan Modal Rp12,7 Miliar ke BME, Ternyata Bukan Suntikan Dana Baru

Advertorial

DPRD Bontang Buka Peluang Industri Beri Masukan Raperda Penanggulangan Bencana

Advertorial

DPRD Bontang Libatkan PKT dan Badak LNG dalam Penyusunan Perda Penanggulangan Bencana Kawasan Industri