Home / Advertorial / Kaltim

Jumat, 19 Juni 2026 - 08:55 WIB

DPRD Samarinda Sebut Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar Berdampak pada Melonjaknya Harga BBM hingga Kebutuhan Pokok

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Joha Fajal.

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Joha Fajal.

Bentangkaltim.com, Samarinda – Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Joha Fajal, menyebutkan pelemahan kurs sangat berdampak pada sektor energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), yang menjadi komponen utama dalam aktivitas transportasi dan distribusi barang.

Karena, menurut Joha, hubungan antara nilai tukar rupiah dan harga kebutuhan pokok dapat dilihat dari meningkatnya biaya operasional logistik ketika nilai dolar menguat terhadap rupiah.

“Secara logika dampaknya memang mengarah ke BBM karena minyak dibeli menggunakan dolar,” sebut Joha.

Bagi Joha, bahwa kebutuhan energi dalam negeri masih bergantung impor dari negara lain dengan kebutuhan energi yang bervariasi, misalkan BBM jenis bensi mencapai 59 persen.

“ Indonesia hingga kini masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah dari luar, jadi kebutuhan energi masih bergantung dengan negara lain,” ujarnya.

Baca juga  Bukalapak Dihukum Ganti Rugi Rp 107 Miliar

Dikatakan Joha, transaksi pembelian dilakukan menggunakan dolar AS, setiap pelemahan rupiah akan membuat biaya impor energi menjadi lebih mahal. Sehingga, dampaknya kemudian merembet ke berbagai sektor yang bergantung pada penggunaan bahan bakar.

“Jadi semua pasti berdampak, kalua minyak naik pasti semua kebutuhan lain pasti ikut naik,” tutur Joha.

Salah satu daerah yang terdampak adalah Kota Samarinda, disebutkan Joha, bahwa distribusi kebutuhan pokok dari daerah produsen menuju Samarinda sebagian besar masih mengandalkan transportasi laut dan darat yang membutuhkan konsumsi BBM dalam jumlah besar.

Kondisi tersebut membuat harga barang yang masuk ke Samarinda rentan mengalami penyesuaian ketika biaya operasional pengangkutan meningkat.

“Apalagi sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat kota masih dipasok dari luar Kaltim maupun dari daerah lain di Pulau Kalimantan,” tukasnya.

Baca juga  Kutim Bangun TPA Ramah Lingkungan, Akhiri Masalah Batuta

Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah menjadi salah satu faktor yang membuat harga pangan di Samarinda lebih sensitif terhadap perubahan biaya distribusi.

Karena itu, upaya memperkuat produksi lokal dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di masa mendatang.

“Apabila kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi dari hasil produksi daerah sendiri, biaya distribusi dapat ditekan sehingga gejolak harga akibat faktor eksternal, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah, tidak terlalu dirasakan masyarakat,” terangnya.

Politisi Partai NasDem itu berharap pemerintah dapat memperkuat sektor pangan lokal sekaligus menjaga efisiensi distribusi agar masyarakat tidak terdampak secara signifikan oleh fluktuasi nilai tukar maupun kondisi ekonomi global yang saat ini masih penuh ketidakpastian.

(ard/lal/adv)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Kembali Duduk di DPRD Bontang, Sudiyo Siap Perjuangkan Aspirasi Warga Bontang Selatan

Advertorial

Sudiyo Langsung Duduki Kursi Strategis di DPRD Bontang, Jadi Sekretaris Komisi C dan Anggota Bamus

Advertorial

Sudiyo Resmi Duduki Slot Kursi DPRD Bontang, Gantikan Almarhum Maming

Advertorial

DPRD Bontang Libatkan Perusahaan Industri Susun Raperda Penanggulangan Bencana, Sumardi Minta Masukan Ahli Safety

Advertorial

Ridwan Soroti Potensi PAD dari Aset Pemkot Bontang yang Dikelola PT BME

Advertorial

DPRD Bontang Bahas Penyertaan Modal Rp12,7 Miliar ke BME, Ternyata Bukan Suntikan Dana Baru

Advertorial

DPRD Bontang Buka Peluang Industri Beri Masukan Raperda Penanggulangan Bencana

Advertorial

DPRD Bontang Libatkan PKT dan Badak LNG dalam Penyusunan Perda Penanggulangan Bencana Kawasan Industri