Bontang – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menaruh perhatian serius terhadap fenomena fatherless, yakni kondisi ketika anak tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang membahas isu tersebut dibahas dalam webinar bertajuk “Peran Guru di Era Digital dalam Membangun Karakter Bangsa” yang digelar secara daring, Jumat (1/8/2025).
Sebagai informasi, acara webinar kali ini dipandu oleh, Imannatul Istiqomah yang bertindak sebagai modertor. Dalam kesempatan ini, empat narasumber yang terdiri dari pegiat GSM tidak hanya berdomisili di Kota Bontang. Namun juga berasal dari luar pulau Kalimantan yakni Kabupaten Kebumen dan Tangerang Selatan. Keempat narator ini yakni Pegiat GSM Tangerang Selatan, Eni Arumita Sari yang juga sebagai guru UPTD SDN Rawabuntu 03, Pegiat GSM Kabupaten Kebumen, Retno Ida Muizah, seorang guru TK Pertiwi 14.27.14 Kebumen.
Sementara, dari Kota Taman, ada Perma Bakti, dari SMP Yayasan Pupuk Kaltim juga merupakan Pegiat GSM Bontang dan Kepala TK-KB-TPA Islam Nurul Fatah, Suyanto Suyadi.
Diketahui, fenomena fatherless tidak hanya terjadi karena kehilangan ayah secara fisik, melainkan juga akibat peran ayah yang tidak hadir dalam keseharian anak. Dampaknya dapat terlihat dalam tumbuh kembang anak, seperti krisis identitas, rendah diri, hingga masalah emosi yang berimbas pada kehidupan sekolah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Bontang, Saparudin, menyebutkan webinar ini menjadi ruang refleksi sekaligus langkah nyata dalam memperkuat peran sekolah sebagai rumah kedua bagi anak. Melalui kerja sama dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Bontang, kegiatan tersebut mendorong terjalinnya kolaborasi erat antara guru dan orang tua.
“Guru perlu memiliki kepekaan untuk memahami kondisi siswa, terutama mereka yang kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian di rumah. Sekolah harus menghadirkan ekosistem yang hangat, suportif, dan penuh empati,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, GSM menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam pendidikan. Guru diharapkan mampu memberi teladan, dukungan emosional, serta ruang belajar yang memanusiakan anak. Dengan begitu, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar formal, tetapi juga menjadi wadah penyembuhan bagi anak yang mengalami keterasingan sosial.
Di era digital, tantangan bagi anak semakin kompleks, mulai dari kecanduan gawai, terpapar konten negatif, hingga risiko depresi. Untuk itu, Disdikbud mengusulkan berbagai program pendampingan, seperti circle time (dialog pagi), buddy program, kelas konseling, mentoring, serta permainan tradisional yang melatih kerja sama dan interaksi sosial.
Selain itu, program “satu hari bersama ayah” juga dinilai penting untuk memperkuat keterikatan emosional anak dengan figur ayah, meski dalam waktu terbatas. Program ini jelas tertuang dalam surat edaran Wali Kota Bontang dengan Nomor: 100.3.4.3/753/DP3AKB/2025 tentang himbauan pelaksanaan sekolah bersama ayah dan hari pertama masuk sekolah baik ditingkat TK, SD, dan SMP di Kota Bontang.
“Peran guru dan orang tua harus berjalan seiring untuk menyiapkan generasi yang tangguh dan berkarakter di tengah tantangan zaman,” pungkasnya. (Jay/Adv).










